Jumat, 23 Agustus 2019
Bisnis

13 Pantangan dalam Bisnis Yang Tidak Boleh Dilakukan

Foto: Pixabay

Hai semuanya, pada artikel kali ini saya akan membahas tentang 13 Pantangan dalam Bisnis Yang Tidak Boleh Dilakukan, pada artikel sebelumnya saya sudah membahas tentang 3 hal yang terjadi jika melakukan pantangan, semoga artikel kali ini bermanfaat buat kamu ya, berikut ini pantangan-pantangnnya :

1. Jual, Lalu Lari Dari Tanggung Jawab

Suatu hari, saya membeli HP kredit dengan harga total 6 juta, ketika saya beli pihak penjual menjelaskan kepada saya apa-apa saja kelebihan HP tersebut, seperti bentuknya yang tipis, finger print, face recognize, dan lainnya termasuk garansi selama satu tahun.

Belum genap setahun, HP tersebut rusak, Card Not Detected dan tentu saja saya melakukan claim garansi pada pihak toko, tapi pihak toko mengatakan rusak di HP saya tidak bisa klaim garansi, tapi yang anehnya ketika saya melakukan pembelian pertama mereka tidak menjelaskan secara detail bagian mana saja HP yang bisa claim garansi dan tidak bisa claim.

Terpaksa karena tidak bisa klaim garansi mau tidak mau saya harus mengeluarkan uang sendiri, akan tetapi setelah satu minggu HP saya titip untuk diperbaiki, pihak toko mengatakan kalau HP saya tidak bisa diperbaiki, dengan terpaksa saya hubungi official store terdekat dan juga pusat, tapi mereka tidak bisa membantu karena IMEI HP saya tidak terdetek di system mereka dengan alasan karena HP saya menggunakan garansi toko bukan Nasional, tentunya saya sangat geram karena pihak penjual tidak menjelaskan kepada saya secara detail tentang Garansi Toko dan Nasional yang sebelumnya tidak saya paham sedikitpun, tekpaksa mau tidak mau HP yang saya beli dengan harga 6 juta hanya bisa saya pakai tidak sampai setahun dan saya jual hanya 500 ribu, sedihkaaaan, setelah kajadian tersebut saya tidak lagi percaya sama brand dan toko tersebut.

Oleh karena itulah, kalau kamu menjual sesuatu bertanggung jawablah, jelaskan secara detail dan sedetail detailnya, karena kalau konsumen kamu kecewa akan berimbas ke bisnis kamu, persis seperti cerita saya di atas.

2. Melakukan Bisnis Secara Instan

Ada anak pengusaha sukses yang sangat terkenal sebut saja namanya Arifin. Ayahnya memiliki memiliki beberapa perusahaan produktif dan menghasilkan kekayaan berlimpah bagi Arifin dan sekeluarga. Untuk meneruskan usaha bisnisnya, sang ayah memberikan salah satu usaha untuk dikelola Arifin.

Tentu saja itu menjadi berkah bagi Arifin. Ia tidak perlu bekerja keras atau melamar pekerjaan ke mana-mana, karena sudah memiliki perusahaan produktif yang menghasilkam omset yang menguntungkan setiap bulannya. Saat menerima tongkat kepemimpinan perusahaan, Arifin pun berpikir akan mudah menjalankannya. Ternyata dalam perjalan memimpin perusahaanya banyak hambatan yang dihadapi. Dia harus mengelola perusahaan dan bekerja sama dengan karyawan untuk mempertahankan citra perusahaan.

Arifin mengambil hikmah penting dari kejadian yang dialaminya. Memulai sebuah usaha dengan serba instan seperti dirinya, tidak lantas membawa seseorang bisa meraih kesuksesan dalam bisnis. Kerja keras dan proses belajar dalam bisnis tetap harus dijalani untuk meraih dan mempertahankan kesuksesan tersebut. Apa yang dialami Arifin merupakan gambaran bahwa keberhasilan tidak bisa diraih secara instan.

3. Temperamen Tinggi

Seseorang pebisnis yang bernama Dzulgunar, suatu hari mengalami banyak kejadian yang tidak menyenangkan. Sesaat baru tiba dikantor, dia sudah menerima laporan penjualan yang tidak mengalami kenaikan selama satu bulan terahir. Tidak hanya itu, dia mendapatkan kabar, bahwa salah satu kompetitornya berhasil menarik seorang tenaga pemasaran terbaiknya untuk bekerja pada mereka.

Baca Juga :  5 Rahasia Memulai Bisnis dari Buku Like a Virgin

Emosi Dzulgunar, yang pada dasarnya memang tinggi, langsung meledak. Dia segera memanggil staff kantor dan memarahi mereka karena dianggap tidak becus bekerja. Tidak hanya itu, karena masih tersulut emosi, dia memutuskan untuk membatalkan pertemuan dengan klien bisnisnya tanpa alasan yang jelas. Hari itu dilalui Dzulgunar dengan perasaan tidak menentu. Pekerjaan beserta agenda janjinya tidak terselesaikan karena terpengaruh emosi.

Karena orang yang bertempramen tinggi identik dengan suka emosi, ketika berbicara mengenai emosi, orang sering menganggapnya sebagai sikap yang mengganggu, mengalihkan perhatian, menghambat kreativitas, dan hal-hal negative lainnya.

4. Menunda Menyelesaikan Masalah

Suatu ketika, seorang pengusaha mendapat laporan dari karyawannya mengenai complain konsumen terhadap produk mereka. Merasa complain tersebut tidak terlalu penting, si pengusaha tidak menghiraukan. Beberapa hari kemudian, karyawan tersebut melapor bahwa di konsumen kembali menanyakan tindak lanjut dari kompain tersebut. Karena terlalu sibuk dengan urusan lain, lagi-lagi si pengusaha mengabaikan laporan tersebut. Dia pun meminta karyawannya untuk mengatakan bahwa komlain tersebut sedang dipelajari perusahaan.

Kejadian itu berulang kembali beberapa hari kemudian, dan si pengusaha memberikan alasan yang sama kepada karyawannya untuk disampaikan kepada konsumen. Rupanya, si konsumen yang merasa kecewa dan tidak dihargai laporannya, memutuskan tidak akan menggunakan lagi produk dari pengusaha tersebut. Padahal selama ini konsumen tersebut adalah pelanggan tetap dan sering membawa teman-temannya berbelanja. Akhirnya, merekapun ikut-ikutan tidak memakai produk si pengusaha itu setelah mendengar apa yang di alami temannya.

Cerita di atas salah satu contoh bagaimana dampak seorang pebisnis yang menunda-nunda menyelesaikan masalah.

5. Berutang Untuk Menutupi Utang

Ketika bisnis telah berjalan sering kali kita menginginkan banyak hal untuk memajukan usaha. Salah satunya dengan menambah dana segar sebagai tambahan modal ataupun operasional usaha. Apabila dana simpanan untuk usaha kita tidak mencukupi, cara lain untuk mengatasinya dengan cara meminjam pada orang lain atau berutang pada pihak bank.

Sebenarnya sah-sah saja seorang pebisnis berhutang. Terlebih, hasil dana yang didapatkan dari berhutang itu dipergunakan untuk membantu modal atau operasional usahanya. Namun, yang menjadi masalah, ketika pebisnis berutang untuk menutupi utang sebelumnya. Seperti peribahasa: menggali lubang untuk menutup lubang.

Tentu saja hal itu pantang dilakukan dalam bisnis. Salain mengganggu masalah keuangan, juga akan menimbulkan beberapa persoalan yang lebih pelik. Pebisnis tersebut akan terjebak dalam lingkaran utang yang lama kelamaan menumpuk dan akan menenjeratnya. Dan usahanyapun bisa bangkrut. Jangan salah, masalah ini bisa berdampak pada citra buruk pebisnis itu sendiri.

6. Melakukan Bisnis Tanpa Target

Menjalankan bisnis tanpa target diibaratkan seperti menembak target dengan pistol tanpa peluru. Target tidak mungkin bisa tertembak tanpa peluru yang disiapkan. Begitu pula dalam bisnis. Apabila pebisnis tidak memiliki target yang jelas, tentu saja bisnis yang dijalankannya tidak akan terarah tujuannya. Dia tidak tahu tujuan sesungguhnya yang ingin dicapai dalam bisnis.

Bisa saja bisnis yang dijalankan hanya berjalan ditempat atau bahkan terhenti ditengah jalan, karena si pebisnis sendiri tidak tahu mau dibawa  kemana bisnisnya. Padahal, menentukan target yang akan dicapai sangat penting dalam berbisnis. Dengan target, kita akan lebih bersemangat dan terpacu untuk menekuni bisnis. Kita pun dapat mengatur strategi atau langkah-langkah yang tepat untuk mengejar target tersebut.

Baca Juga :  4 Tips Mencegah Terjadinya Kesalahan Penciptaan Produk

7. Merasa Puas Di Zona Nyaman

Pebisnis yang merasa puas dalam zona nyaman tidak akan mengalami kemajuan apa-apa dalam bisnis maupun pengembangan dirinya. Dia merasa tidak ada target atau tujuan lagi yang harus dicapai. Semua pencapaian dalam bisnis yang diraihnya sudah dirasa cukup baginya, dan saatnya dia menikmati.

Orang yang sukses biasanya tidak terpaku dalam zona nyaman. Kekayaan dan kesuksesan yang telah diraihnya tidak membuatnya larut dalam zona nyaman. Itu pula yang terjadi pada Oprah Winfrey. Oprah terkenal sebagai salah satu toko di dunia entertainment. Acara reality show Oprah yang berjudul The Oprah Winfrey Show mampu memikat mata jutaan pemirsa dunia.

Walaupun telah meraih kesuksesan dan meraih pundi-pundi uang dari kerja kerasnya, Oprah pantang puas berada dalam zona nyaman sebuah kesuksesan. Dia merambah ke dunia bisnis dan memberikan perhatian penuh kepada kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas social. Terbukti usaha yang berada dalam naungannya berkembang dan terkenal di seluruh dunia.

8. Menganggap Diri Gagal

Seorang laki-laki menyadari hidupnya selama ini penuh kekurangan, sehingga dia berusaha memperbaikinya. Lelaki tersebut teringat pesan alharhum ayahnya yang mengatakan tidak jauh dari kebun miliki mereka ada sebuah tempat harta karun emas. Diapun segera mengambil peralatannya untuk mencari harta karun tersebut.

Sesampainya disana dengan sangat semangat dia menggali tempat tersebut sampai kelelahan. Kegiatan menggali tersebut terus dia lakukan hingga berhari-hari. Namun, dia belum menemukan harta karun tersebut. Dia berhenti menggali, padahal sekitar sepuluh meter dari tempat dia terakhir menggali  terdapat harta karun yang dimaksud oleh sang ayah. Hanya karena merasa gagal menemukannya, lelaki tersebut berhenti.  Bila saja mau terus bekerja dan berusaha, dia pasti akan mendapatkan emas itu. Perbedaan orang gagal dan orang sukses tipis, yaitu dari cara mereka menyikapi kegagalan. Orang gagal akan menyikapi kegagalan dengan cara negative dan orang sukses dengan cara positif.

9. Menghentikan Komunikasi Pada Klien Pasif

Klien pasif ada dua tipe, Pertama, klien bersikap pasif dan tidak menunjukkan respons tertarik ketika kita menawarkan sesuatu kepada mereka. Dan yang Kedua kalien pasif yang hanya satu atau beberapa kali mengkonsumsi produk atau jasa kita, namun setelah itu mereka tidak peduli dengan barang atau jasa yang kita tawarkan. Berbagai reaksi yang mungkin kita rasakan ketika bertemu dengan klien pasif adalah jengkel, marah, bahkan kecewa. Kita begitu semangat menjelaskan dan menawarkan produk atau jasa kepada klien tersebut, tapi mereka malah menunjukkan sikap antipati dan tidak peduli pada tawaran itu. Tentu saja hal ini membuat kita malas atau enggan berhubungan lagi dengan mereka.

Padahal, tidak selamanya klien atau konsumen pasif menolak atau tidak mau membeli produk atau jasa yang kita tawarkan. Mungkin pada saat kita menawarkan produk atau jasa tersebut, mereka sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menerima tawaran kita, tugas kita jangan sampai mengentikan komunikasi.

10. Berbohong Pada Pasar

suatu ketika, seorang pembisnis mengambil keuntungan dari perayaan hari besar keagamaan. Biasanya menjelang hari-hari besar Agama tertentu, harga sembako produk-produk utama akan naik tajam. Dia melihat peluang besar untuk menambah keuntungan dengan menjual aneka parcel makanan. bisnis parcel makanan biasanya laris manis diminati pembeli untuk dibagikan kepada kolega atau keluarga mereka.

Baca Juga :  Menghindari 4 Kebiasaan Jual/Beli yang Tidak Syar’i

Melihat banyak stok makanan di gudang, dia mencari cara agar produk tersebut bisa laku. Salah satunya dengan menggunakan stok tersebut sebagai bahan isi parcel-nya. Mengingat banyaknya permintaan, idenya sudah mulai melenceng dari ide awal, yaitu dengan memasukan makanan-makanan yang sudah mau kadaluarsa ke parcel. Tentunya ini salah besar, karena yang kamu harus tahu pembeli sekarang sudah mulai pintar,  sekali kamu membohongi mereka, maka kepercayaan mereka terhadap bisnis kamu akan hilang selamanya, dan bisa jadi juga mereka akan bercerita ke teman-teman mereka tentang kecurangan kamu, seperti halnya juga ketika bisnis kamu jujur, tentunya mereka akan bercerita ke teman dan keluarga mereka. Kalau bisnis kamu ingin maju jangan sekali-sekali membohongi pembeli, karena apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai.

11. Merasa Pesimis

Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu seorang teman. Dia menceritakan idenya usahanya secera terperinci kepada saya. Dia ingin membangun sebuah kafe dan di dalamnya ada toko buku yang nantinya pengunjung kafe tersebut bisa dengan santai menikmati kopi dan minuman lainnya sambil membaca buku. Dan dia juga sudah merencanakan di sudut kafe tersebut dia akan menyediakan panggung kecil yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk menampilkan seni. Tentu saja itu ide yang sangat bagus. Dan sayapun mengira dia akan segera mewujudkannya.

Namun, tidak seperti itu kenyataannya. Impian ia belum terwujud sampai saya bertemu lagi dengannya. “Aku merasa impian itu terlalu muluk,” katanya. “Aku tidak mungkin mewujudkannya, terlalu banyak masalah yang harus kuhadapi untuk membuat kafe,” lanjutnya dengan tatapan kosong. Saya hanya bisa terdiam mendengar alasannya. Sayang sekali, bertahun-tahun waktu dibuang percuma oleh teman saya tersebut. Dia merasa pesimis mewujudkan kafe impiannya.

12. Mencampur Adukkan Keuangan

Keuangan yang teratur termasuk dengan tidak mencampur adukkan keuangan pribadi dan keuangan bisnis menjadi satu. Saat mencampuradukkan keuangan, berarti kita menempatkan bisnis kita di ujung tanduk. Hal ini bisa membuat perkembangan bisnis menjadi terhambat, bahkan bisa mengalami kebangkrutan. Tentu saja hal ini pantang dilakukan dalam bisnis.

13. Bersikap Konsumtif

Hari itu Wulan merasa sangat senang saat melihat laporan keuangan usahanya bulan ini naik tajam. Dia segera memanfaatkan uang keuntungan usahanya untuk membeli tas bermerek yang sudah lama diidamkannya.

Selang beberapa hari setelah berbelanja, keuangan usaha Wulan mengalami kendala. Tentu saja hal ini berpengaruh pada modal usaha Wulan. Pada saat bersamaan, dia butuh modal untuk meningkatkan produksinya. Saat itulah Wulan menyesal, mengapa uang keuntungan usaha tempo hari aku gunakan untuk membeli barang-barang yang tidak perlu. Seandainya hari itu dia bisa menekan sikap konsumtifnya, uang keuntungan bisa dipakai untuk menambah modal. Akhirnya, diapun terpaksa meminjam uang sahabatnya sebagai tambahan modal.

Itu dia jenis-jenis pantangan dalam bisnis yang tidak boleh dilakukan kalau ingin bisnis kamu tetap eksis dan profit-nya terus meningkat tiap bulan.

Nurul Arifin
the authorNurul Arifin
Admin & Writer
Only I can change my life. No one can do it for me.