Rabu, 23 Oktober 2019
BudayaSejarah

Tari Saman: Dari Sejarah Hingga Tari Saman Yang Diakui UNESCO

Foto: Kemdikbud (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/saman-tarian-para-lelaki-gayo/)

Tari Saman berasal dari dataran tinggi Gayo, Aceh. Tari Saman merupakan salah satu tari yang sangat terkenal baik nasional maupun international. Namun pun begitu, tidak sedikit masyarakat yang melekatkan istilah tari saman pada beberapa tari tradisional Aceh lainnya. Dengan yakinnya mereka menyebutkan tarian-tarian seperti likok pulo dengan sebutan tari saman.

Sejarah Singkat Tari Saman

Sebelum jauh kita membahas tentang apa itu tari saman, ada baiknya kita me-review sedikit tentang sejarah tari saman. Tari saman berasal dari daratan tinggi Gayo yang mana tari ini di ajarkan oleh seorang Syeh yang bernama Saman. Saat itu beliau menggunakan tari tersebut sebagai media untuk menyebarkan Islam. Oleh pemuda-pemuda saat itu, nama Syeh Saman pun akhirnya melekat erat pada tari tersebut. Tari ini memiliki gerakan yang enerjik dimana banyak sentakan dan pukulan yang tegas pada dada dan cepat serta serentak. Mengingat hal tersebut, maka tari saman tidak dimainkan oleh wanita.

Bapak Burhan pada acara Pertandingan Saman Sara Ingi (saman jalu) yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Gayo Luwes (IMGL) mengatakan bahwa ““Tari Saman harus dilakonkan kaum laki-laki, bukan perempuan…”, kemudian beliau juga menambahkan “pergerakan dalam tari harus memiliki khas Saman dan berbahasa Gayo, serta memakai kostum ciri khas Gayo yang disebut  kerawang Gayo”. DI samping itu, Dr. Rajeb Bahri  menambahkan bahwa tarian saman tidak memiliki formasi laki-laki dan perempuan, alias bercampur seperti yang sering tampak di pentas-pentas seni tari Aceh.

Saat saya pribadi pergi ke Delung Sekinel (salah satu desa di daerah Gayo) banyak bapak-bapak dan ibu-ibu di gampong itu mengatakan bahwa wanita tidak pantas untuk menarikan tari saman. Mereka berpendapat bahwa wanita yang menarikan tari saman adalah perempuan yang tidak benar. Bisa jadi hal ini dikarenakan gerakan-gerakan memukul dada serta hentakan-hentakan badan dan kepala ke kiri dan kanan, keatas dan kebawah.

Baca Juga :  Washi, Kertas Jepang Yang Mempesona

Fenomena Pemberian Nama Tari Sama Untuk Tari Aceh Lainnya.

Banyak masyarakat Aceh secara khusus maupun Indonesia secara umum mengetahui bahwa semua tarian duduk dari Aceh adalah tari “saman”. Namun hanya sedikit yang mengetahui yang mana tari saman sebenarnya.

Mari kita lihat contoh, di suatu pentas seni ada sebuah group seni menampilkan tari Likok Pulo. Tentunya, banyak penonton yang mengatakan bahwa itu adalah tari saman. Nah, fenomena itu, bukan berlaku pada level masyarakat International dan Nasional, tapi juga di kalangan masyarakat Aceh sendiri pun begitu. Sehingga penamaan tari saman terlekat pada banyak tari tradisional Aceh. Pada level international tari saman ini juga sering disebut “thousand hands”. Beberapa tari duduk yang sering di sebut tari saman antara lain adalah :

  1. Tari Likok Pulo
  2. Tari Ratoh Bantai
  3. Tari Pukat
  4. Beberapa tari kontemporer Aceh lainnya yang memiliki formasi duduk.

Dari fenomena tersebut, akan sangat sulit untuk di perbaiki dan diberikan informasi yang sebenarnya. Maka banyak teman-teman pelaku seni di Aceh seperti seniman, musisi, dan penari tradisional Aceh melaakukan berbagai upaya untuk menginformasikan tari saman sebenarnya.

Upaya-upaya ini sering dilakukan dan bekerjasama dengan pemerintah Aceh, baik itu diadakan event pentas seni skala kabupaten, kota, dan provinsi. Bahkan beberapa tahun terakhir, Gayo sendiri memiliki event khusus di daerah Gayo yang menampilkan banyak tarian tradisi dari Gayo lainnya serta festival kopi.

Yang perlu diperhatikan adalah tari saman bukan tari seudati, bukan tari liko pulo, bukan tari ratoh bantai, atau tari saman yang sudah di buat-buat seperti bercampurkan laki-laki dan perempuan pada satu formasi tari.

Oleh karenanya, agar tetap terjaga keaslian tari saman. UNESCO serta beberapa pelaku seni dari Aceh mencoba untuk mendokumentasikan tari saman. Kemudian Tari saman di kukuhkan sebagai warisan budaya dunia bukan benda. Lalu kemudian tari saman di jadikan salah satu warisan Budaya Dunia melalui sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk perlindungan warisan budaya tak benda UNESCO di Nusa Dua, Bali.

Baca Juga :  6 Tradisi Pernikahan di Indonesia Ini Sangat Unik

Namun pun begitu, salah satu penelitian terhadap tari saman menunjukkan bahwa hampir semua tarian Aceh memiliki sama “saman” di depan nama tarian aslinya. Hal ini mungkin disebabkan sumber literatur yang di rujuk adalah berasal dari buku Snouck Hurgronje (orang Belanda yang melakukan studi tentang Gayo dan berkeinginan untuk menjajah Aceh pada zaman penjajahan Belanda). Walaupun begitu, Pendapat dari Snouck Hurgronje tidak bisa diambil sepenuhnya dikarenakan ia mendapatkan informasi tersebut dengan meng-interview dan memberikan kuisioner terhadap dua orang pemuda dari Gayo. Sehingga ia menuliskan semua tari Aceh memiliki awalan nama tari saman.

Usaha Dari Kita Pemuda-Pemudi Indonesia Dalam Melestarikan Tari Tradisi.

Dalam rangka menjaga keaslian tarian saman, pemuda-pemudi Indonesia harus banyak belajar tentang sejarah tari-tari tardisional di Indonesia, salah satunya tari saman. Tari Saman bukanlah milik per individu, melainkan warisan berharga milik bangsa kita yang mana sudah sepatutnya kita jaga kemurniannya. Walaupun masih perlu usaha keras dari kita untuk peduli dengan istilah tari saman ini sendiri yang disematkan pada tari saman, sehingga tari saman tidak mudah di “copy” oleh orang lain sebagai tari mereka.

Kalau bukan kita generasi muda yang peduli, mungkin tari saman atau tari tradisi di Indonesia akan hilang seiring dengan masa milenium ini. Terutama tari saman, sehingga identitas tari saman sendiri tidak akan bercampur aduk serta  hilang seiring masa yang berlalu. Seperti ajakan Andi Malaranggeng “Saman mesti dijaga agar tidak kehilangan identitas kebudayaannya”.

Sekian artikel tentang tentang tari saman ini, semoga bermanfaat bagi khalayak ramai dan menambah pengetahuan.

Dzulgunar M. Nasir
the authorDzulgunar M. Nasir
Editor & Writer
Sometimes I force myself to write something I dislike. Therefore I Learn.