Friday, 22 March 2019
InspirasiOtherSejarah

5 Fakta Gunung Krakatau: Pemicu Tsunami Selat Sunda

Salah satu gunung tertua yang ada di Indonesia adalah Gunung Krakatau. Krakatau adalah gunung vulkanik yang masih aktif berada di selat sunda antara pulau Jawa dan Sumatera. Gunung ini pernah mengemparkan dunia karena letusannya pada tahun 1883 dan menjadi salah satu bencana terdahsyat dalam catatan peradaban manusia modern, serta letusannya setara dengan kekuatan 1000 bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Saking dahsyatnya dampak dari letusan dapat dirasakan oleh negara-negara lain seperti Jepang, bahkan pesisir Amerika. Lampung Selatan menjadi saksi bisu sebelum letusan dahsyat terjadi pada bulan Mei hingga Juni 1883. Hingga saat ini Gunung Anak Krakatau masih terus tumbuh dan terus mengalami erupsi. Selanjutnya disini penulis akan menceritakan fakta Gunung Krakatau yang mungkin sebahagian orang masih penasaran dengannya.

1. Krakatau Lahir dari Gunung Purba

Gunung krakatau memiliki sejarah yang panjang yang lahir dari gunung purba dan memiliki usia yang panjang. Para ilmuan terdahulu pun percaya bahwa diantara selat sunda terdapat Gunung Purba. Gunung purba ini lah yang menjadi sebab dari terpisahnya daratan Pulau Jawa dan Sumatra. Teori ini didasari dari catatan teks jawa kuno berjudul Pustaka Rajapurwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 M. catatan dalam teks jawa kuno tersebut diantaranya berbunyi: “Ada suara guntur bergelegar berasal dari gunung batuwara, adapula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat, kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. sebuah banjir besar yang datang dari gunung batuwara dan mengalir ke timur menuju gunung kamula. ketika air menenggelamkannya, pulau jawa terpisah menjadi dua yang menciptakan pulau sumatra”. Dari catatan ini pula, para ilmuan mengatakan bahwa gunung krakatau ini awalnya bernama gunung batuwara. Berdasarkan catatan pustaka rajaparwa tersebut dapat diketahui bahwa ketinggiannya mencapai 2000 M diatas permukaan laut, dan letusan tahun 416 M telah menghancurkan 3/4 bagian tubuh gunungnya, serta menyisakan bagian yang kemudian menjadi pulau rakata, pulau panjang, dan pulau serto.

2. Ledakan Dahsyat Setara 1000 Bom Atom

Catatan pemerintah kolonial belanda memperkirakan korban dari letusan gunung krakatau mencapai 36.000 jiwa. Lontaran abu vulkanik ke atmosfir membuat cahaya matahari yang masuk ke bumi terhalang, ketinggian permukaan laut meningkat sampai ke pantai Hawai dan Sepenanjung Timur Tengah. sungguh tidak terbayangkan apabila letusan tersebut terjadi di era modern ini, tentu akan semakin banyak jiwa yang menjadi korban seiring padatnya penduduk.

3. Peninggalan Gunung Krakatau

Saat ini kita hanya melihat sisa-sisa Gunung Krakatau yang membentuk gugusan pulau kecil, yaitu Pulau Serto, Pulau Panjang, Pulau Rakata, dan Pulau Anak Krakatau. diantara keempat pulau ini, hanya pulau anak krakatau lah yang masih aktif dan terus tumbuh. jauh dari keheningan selat sunda, gunung rakata pun terus tumbuh. Namun sebelum lahir pulau-pulau tersebut, ledakan dari Gunung Krakatau dahulu menciptakan Pulau Sumatra dari Pulau Jawa.

4. Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau

Beberapa pulau yang diciptakan oleh Gunung Krakatau, hanya satu pulau yang aktif dan terus tumbuh yaitu Anak Gunung Krakatau yang diperkirakan terus tumbuh setinggi 6 meter setiap tahunnya.

Baca Juga :  10 Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah

5. Tsunami Selat Sunda

Seperti yang kita tahu di akhir tahun 2018, pada beberapa waktu yang lalu tepatnya 22 Desember pada malam harinya kita dihebohkan dengan Tsunami selat sunda yang menerjang Banten dan Lampung secara tiba-tiba tanpa adanya gempa, sehingga menyebabkan ratusan korban dan kerusakan pemukiman warga. Bencana Tsunami terjadi disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan longsor. Longsor tersebut kemudian mengakibatkan gelombang laut tinggi dan bergerak ke pesisir. Semua itu terjadi begitu cepat atas kehendak Tuhan.

Indonesia adalah negara yang rawan bencana terutama terhadap gempa, gunung yang masih banyak yang aktif, serta Tsunami yang tidak bisa kita prediksi. Namun yang terpenting adalah kita selaku manusia hanya bisa berdoa dan berlindung saat bencana itu datang, karena suatu bencana bisa datang kapan saja.

Rahmayani
the authorRahmayani
WRITER