Selasa, 19 November 2019
KeuanganPendidikan

8 Prinsip Ekonomi Islam Beserta Penjelasannya: Didasarkan Atas 5 Nilai Universal

Prinsip ekonomi Islam atau ekonomi syariah merupakan kaidah-kaidah pokok yang membangun struktur atau kerangka ekonomi Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip ini menjadikan landasan bagi setiap individu dalam melakukan aktivitas ekonomi-nya. Untuk mencapai tujuan falah (kesejahteraan) manusia atau setiap individu harus memiliki nilai-nilai atau norma dan spirit ekonomi Islam. Contoh dari implementasi nilai ekonomi Islam yaitu adanya penjaminan kehidupan yang layak terhadap masyarakat fakir dan miskin.

Foto: Pexels.com
Dalam prinsip  ekonomi Islam yang bisa menjamin keadilan, baik motivasi individu, bisnis, maupun kenegaraan harus dibangun berdasarkan “kebutuhan” (felt need) dengan prinsip hidup “sederhana” (bukan miskin, melainkan mampu memenuhi kebutuhan yang wajar, tidak boros, apalagi serakah). Contoh exemplar  kehidupan nyata tentu saja zaman Rasulullah SAW hingga pemerintahan empat sahabat Nabi (Lihat buku Damanhuri, 2010, hlm.184-185).

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam diibaratkan sebagai sebuah kerangka bangunan sebagaimana dikemukakan oleh Adiwarman, bangunan Ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai universal, yakni: Tauhid (keimanan), ‘Adl (keadilan), Nubuwwah (kenabian), Khilafah (pemerintah), dan Ma’ad (hasil).

1. Prinsip Tauhid Dalam Ekonomi Islam

Tauhid itu adalah pondasi dalam ajaran Islam. Dengan tauhid, manusia menyaksikan bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah SWT (Laa Ilaaha Illallah). Dengan demikian, segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT tidaklah sia-sia, tetapi memiliki tujuan. Manusia diciptakan tujuannya adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Karena itu segala aktivitas manusia dalam hubungannya dengan alam dan sumber daya serta manusia (muamalah) dibingkai dengan kerangka hubungan dengan Allah SWT. Karena kepada-Nya manusia akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan, termasuk aktivitas ekonomi dan bisnis.

2. Prinsip ‘Adl Dalam Ekonomi Islam

Allah SWT adalah pencipta segala sesuatu, dan salah satu sifat-Nya adalah adil. Dia tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap makhluk-Nya secara dzalim. Implikasi ekonomi dari nilai ini adalah bahwa pelaku ekonomi tidak dibolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam.

Baca Juga :  Proses Pengambilan Keputusan Yang Efektif Dalam Perusahaan

3. Prinsip Nubuwwah Dalam Ekonomi Islam

Allah telah mengirim “manusia model” yang terakhir dan sempurna untuk diteladani sampai akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Sifat-sifat utama sang model yang harus diteladani oleh manusia pada umumnya dan pelaku ekonomi dan bisnis pada khususnya, adalah sebagai berikut: Sidiq (benar,jujur), Amanah (dapat dipercaya), Fathonah (kecerdikan, bijaksana), Thabligh (pemasaran).

4. Prinsip Khilafah Dalam Ekonomi Islam

Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi, artinya untuk menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Karena itu pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Dalam Agama Islam, pemerintah memainkan peranan yang kecil tetapi sangat penting dalam perekonomian.

Peran utamanya adalah untuk menjamin perekonomian agar berjalan sesuai dengan syari’ah, dan untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak manusia. Semua ini dalam rangka mencapai maqasis al-syari’ah, untuk memajukan kesejahtraan manusia. Hal ini dicapai dengan melindungi keimanan, jiwa, akal, kehormatan, dan kekayaan manusia.

5. Prinsip Ma’ad  Ekonomi Islam

Ma’ad seringkai di artikan sebagai “kebangkitan”, tetapi secara harfiah ma’ad berarti “kembali”. Dan kita semua akan kembali kepada Allah SWT. Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk berjuang. Dan perjuangan ini akan mendapatkan ganjaran, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu ma’ad juga diartikan sebagai ”imbalan/ ganjaran”. Implikasi nilai ini dalam kehidupan ekonomi dan bisnis misalnya, difokuskan oleh  al-Ghazali yang menyatakan bahwa motivasi para pelaku bisnis adalah untuk mendapatkan “laba”, baik laba di dunia maupun akhirat.

Bagian kedua (prinsip-prinsip derivatif) merupakan prinsip-prinsip sistem ekonomi islam yang juga menjadi tiang ekonomi islam yaitu:

6. Multitype Ownership (Kepemilikan Multijenis)

Foto: Pexels.com

Multitype Ownership merupakan turunan dari nilai tauhid dan adil. Dalam ekonomi Islam, kepemilikan swasta atau pribadi tetap diakui. Akan tetapi untuk menjamin adanya keadilan, maka cabang-cabang produksi yang strategis dapat dikuasai oleh negara.

Baca Juga :  Jangan Lakukan 5 Hal ini Jika Tidak Ingin Rugi di Pasar Saham

7. Freedom to Act (Kebebasan bertindak atau berusaha)

Freedom to act merupakan turunan dari nilai nubuwwah, adil dan khilafah. Freedom to act akan menciptakan mekanisme pasar dalam perekonomian karena setiap individu bebas untuk bermuamalah. Pemerintah akan bertindak sebagai wasit yang adil dan mengawasi pelaku-pelaku ekonomi serta memastikan bahwa tidak terjadi distorsi dalam pasar dan menjamin tidak dilanggarnya syariah.

8. Social Justice (Keadilan Sosial)

Foto: Pexels.com

Social Justice merupakan turunan dari nilai khilafah dan ma’ad. Dalam ekonomi Islam, pemerintah bertanggungjawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya dan menciptakan keseimbangan sosial antara kaya dan miskin.

Teori ekonomi Islam dan sistemnya belumlah cukup tanpa adanya manusia yang menerapkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Dengan kata lain, adanya manusia yang berakhlak adalah hal mutlak dalam ekonomi. Oleh karena itu akhlak menjadi bagian ketiga dan merupakan atap yang menaungi ekonomi Islam.

Irawati Ilyas
the authorIrawati Ilyas
writer