Tuesday, December 11, 2018
Life Style

Narsis : Trend Kehidupan Masa Kini Yang Positive Atau Negative ?

Bagaimana cara mengurangi sifat narsisme?

Siapa lah yang tidak mengetahui kata “narsis” zaman sekarang ini? Banyak sekali anak-anak muda zaman sekarang mencit-cuit kan kata narsis itu untuk teman nya karena sebentar-bentar posting foto selfie di sosial media mereka. Namun apakah kita benar-benar paham dengan apa itu narsis? dan narsis yang sebenarnya itu bagaimana? Nah pada artikel kali ini kita akan mencoba membahas apa itu  narsis. Mari kita simak terlebih dahulu apa kata Katherine Schafler.

Katherine Schafler adalah seorang psychotherapist yang membagikan ilmu nya tentang bagaimana kita bisa mengetahui seseorang itu narsis. Melalui blog pribadinya, ia menuliskan beberapa hal tentang ciri-ciri orang narsis.Menurut dia media sosial tidak membentuk seseorang menjadi narsis secara teknis. Ia membandingkan sosial media dengan kota Vegas yang mana kota tersebut secara teknis tidak membuat orang-orang menjadi penjudi. Salah satu ciri khas narsisme adalah karena kebutuhan yang selalu, lagi dan lagi untuk mendapatkan kekaguman dari khalayak ramai.

Ditelaah dari segi bahasa, narsisme memiliki erat kaitannya dengan makna cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami hal ini sering di sebut dengan narsisis (narcissist). Penggunaan istilah ini pertama sekali diperkenalkan oleh Sigmund Freud, seorang pakar psikologi, dengan mengambil nama toko dalam mitos Yunani yaitu Narkissos. Dalam mitos Yunani tersebut Narkissos di kutuk sehingga dia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Dia pun sangat terpengaruh oleh rasa cinta terhadap dirinya sendiri dan tanpa ia sadari ia menjulurkan tangannya kedalam kolam dan akhirnya tenggelam. Di kolam tersebut akhirnya tumbuh bunga yang mana bunga tersebut sekarang di sebut dengan bunga narsis. (Ann M. King, Sheri L. Johnson, Gerald C. Davison, John M. Neale . 2010)

Baca Juga :  7 Film Yang Bisa Membangkitkan Motivasi dan Inspirasi Dalam Hidup Anda

Papu mengutip dari DSM-IV ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Forth Edition) mengatakan bahwa orang yang memiliki sifat narsis akan mengalami gangguan kepribadian. Gangguan ini memiliki beberapa ciri-ciri tersntu seperti:

  • memiliki perasaan superior bahwa dirinya paling penting diantara orang lain,
  • paling unik,
  • paling mampu,
  • sedikit memiliki empathy,
  • senang di kagumi dan di sanjung,
  • ingin selalu diperlakukan berbeda dengan orang lain dan angkuh.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang berprilaku narsistik akan cenderung memandang dirinya dengan cara berlebihan, merasa paling unik, dan senang untuk menyombongkan dirinya atau paling mampu dan berharap orang lain memberikan pujian kepada dirinya. Intinya sifat narsis sangat beroreintasikan kepada diri sendiri dan tidak ingin mendengar/peduli orang lain.

Di satu sisi, sifat narsisme ini mungkin memiliki hal postif. Dimana ia selalu berfikir “pendapat saya…”, “apa yang saya inginkan adalah …”, “apa yang ingin kamu lakukan adalah …” di saat ia ingin membangun cita-cita nya atau berargumen dengan seseorang. Namun disisi lain, hal negative nya adalah ia tidak bisa mendengarkan atau tidak peduli dengan orang lain.

Bagaimana kita bisa melihat kita memiliki narsisme yang berlebihan? Katherine Schafler mempersiapkan beberapa quiz dalam bentuk kalimat untuk kita mengetahui dan mengukur batas-batasan kepribadian kita. Berikut adalah 3 kalimat yang dapat kita jadikan alat untuk mengukur batas-batasan pribadi (personal boundaries):

  1. Hal ini merupakan tidak OK bagi orang lain untuk  ______________________________                                                  (contoh)
  • melewati / melangkahi barang milik pribadi saya.
  • bercanda tentang warna kulit di perusahaan saya.
  • berkomentar tentang berat badan saya.

2.  Saya memiliki hak untuk menanyakan /  meminta ________________________________                                                                    (contoh)

  • kebebasan pribadi.
  • informasi lebih tentang sebuah barang sebelum membayar.
  • waktu tenang bagi saya.

3. Untuk menjaga waktu dan energi, hal ini OK untuk _______________________________                                                                   (contoh)

  • membuat mode silent telepon  saya.
  • mengubah pikiran saya.
  • membatalkan komitmen saat saya merasa kurang sehat.

Beberapa Tips Bagi Kamu Yang Narsis

 

1. Perhatikan Apa yang Menjadi Perhatian Kamu

Perhatikan seberapa besar persen perhatian mu terhadap dirimu sendiri dalam hitungan jam atau hari. Jika kamu menaruh perhatian 100% pada dirimu sendiri, maka kamu harus menyeimbangkannya. Caranya kamu harus berusaha untuk memperhatikan orang lain juga. Dalam kata lain, kamu harus bisa fokus pada dirimu sendiri dan juga pada orang lain, katakan 50 – 50 persen.2.

2. Peduli Pada Kepedulianmu

Layaknya perhatian, akan tetapi peduli datangnya dari hati. “Siapa yang kamu peduli?” Jika kamu menjawab dengan “hanya saya yang saya peduli”, maka kamu sudah bisa di pastikan narsis dan sudah bisa di pastikan kamu tidak memiliki teman (kecuali teman kamu juga narsis). Kamu bisa meluaskan area kepedulian kamu terhadap pasangan atau keluarga. Jika kamu ingin hidup lebih baik, maka luaskan kepedulianmu ke orang-orang sekitar mu.

3. Keluarlah dan Coba Untuk Memahami Seseorang – Banyak Orang Maksudnya.

Perbanyaklah untuk menambah koneksi untuk menambah teman-teman baru. Belajarlah untuk memahami berbagai sifat orang-orang.  Lalu juga perbanyak habiskan waktu bersama teman-teman yang kamu kenal. Tanyakan kepada mereka “apa hal yang terpenting dalam hidup mu?”. Dengan begitu akan membangun kesadaran kamu untuk lebih fokus pada dirimu sendiri dan disaata bersamaan kamu juga akan fokus pada orang lain. Sehingga kamu bisa menemukan jalan kebahagian tentunya dan mengurangi rasa narsisme yang kamu miliki.

Nah itu dia sedikit tentang narsisme dan beberapa tips untuk mengurangi sifat narsisme. Semoga artikel Bagaimana Kita Mengetahui Bahwa Seseorang  Narsis dapat memberikan sedikit pengetahuan bagi kita semua. Silakan share kepada teman-teman. Share is caring.

Referensi:

Ann M. King, Sheri L. Johnson, Gerald C. Davison, John M. Neale . 2010 . Abnormal Psychology, 11th Edition . John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-470-43314-0

Katherine Schafler blog.

Dzulgunar M. Nasir
the authorDzulgunar M. Nasir
Writer
Amateur writer who always love learning about language, culture, photography, Aceh traditional dance and kindness.