Senin, 16 September 2019
Pendidikan

Inilah 8 Metode Mendidik Anak Sesuai dengan Perkembangan dan Kemajuan Zaman

Lakukan 8 metode mendidik anak sesuai perkembangan zaman; parenting ala Islami

Dalam buku karangan Bukhori Abu A. Yusuf Amin penulis mendapatkan 8 metode dalam mendidik anak, setelah penulis baca ternyata 8 metode ini bisa dijadikan panduan dalam mendidik anak-anak oleh para orang tua. Selain metode yang mudah dipahami juga sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

Hal penting yang harus diingat oleh pendidik (orang tua) adalah bahwa mendidik anak bukan hanya sekedar perkataan, nasehat, atau ceramah, tetapi pengalaman nyata atau praktik langsung harus diterapkan jika ingin sukses dalam berbagai metode parenting.  Hakikatnya manusia lahir dalam keadaan fitrah (suci dan tidak tahu apa-apa) dan setelah melalui proses pendidikan dia akan memperoleh pengetahuan yang akan menentukan apakah anak ini kelak akan menjadi manusia yang baik atau menjadi jahat.

Kemudian pendidikan juga harus fokus pada usaha menciptakan keseimbangan dalam kemapanan kehidupan dunia dan akhirat.  Berikut ini 8 parenting ala Islami atau metode mendidik anak sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman;

1. Metode Dialog

Foto: Pexels.com

Metode ini diartikan sebagai percakapan timbal balik antara dua pihak atau lebih  mengenai suatu topik tertentu dengan sengaja diarahkan kepada suatu tujuan yang dikehendaki oleh pendidik (orang tua) demi kebaikan yang dididik (anak),  dan percakapan ini tidak harus mencapai sebuah kesimpulan. metode ini sangat berpengaruh baik bagi orang tua maupun anak dikarenakan oleh beberapa sebab;

Pertama, dialog berlangsung secara dinamis karena kedua belah pihak terlibat langsung serta saling memperhatikan dalam suatu pembicaraan. Kedua, anak selaku pendengar akan tertarik untuk mengikuti terus pembicaraan itu karena dia ingin mengetahui kesimpulannya.  Ketiga, metode ini akan membangkitkan semangat dan menanamkan kesan yang akan membantu mengarahkan anak untuk menemukan sendiri kesimpulannya. Keempat, bila dialog dilakukan dengan cara dan bahasa yang baik maka akan berdampak pada perubahan akhlak dan sikap bicara anak serta berpengaruh pada sikap menghargai pendapat orang lain.

Baca Juga :  Cara Mengirim e-mail Kepada Guru/Dosen/Professor Yang Baik Dan Sopan

2. Metode  Kisah

Foto: Pexels.com

Menceritakan kisah selalu akan menjadi metode yang memikat karena mengundang pembaca atau pendengar mengikuti alur kisah peristiwa dan merenungkan maknanya. makna ini selanjutnya akan memberikan kesan dalam hati pembaca atau pendengar tersebut.

Dalam parenting Islami, Kisah yang dipilih adalah kisah Qur’ani dan Nabawi karena dapat menyentuh hati anak  melalui kisah yang menampilkan tokoh dengan konteks yang menyeluruh. Anak dapat menghayati atau merasakan kisah itu, kemudian kelebihan dari kisah Qur’ani dan Nabawi adalah kisah yang begitu indah sehingga tidak mengotori pikiran anak, bahkan akan membangkitkan perasaan seperti pengharapan, ketakutan, kerelaan, cinta, pentingnya keikhlasan dan beramal, bersedekah, dan mensyukuri nikmat Allah.

Di samping kisah yang bersumber dari al-Qur’an atau Hadits, cerita-cerita buatan baik fiktif maupun historis juga penting dalam mendidik anak asalkan kisah atau cerita tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Kisah ini dapat disajikan dalam beragam bentuk penyajian seperti; roman, novel, dongeng, mitos, legenda tentang asal-usul suatu tempat, atau cerita tentang binatang (fabel).

3. Metode Perumpamaan

Metode ini akan mempermudah anak dalam memahami apa yang kita ajarkan karena perumpamaan mengambil benda konkrit sebagai media dalam mewakili konsep yang kita ajarkan. metode ini juga akan merangsang anak untuk menemukan hal-hal yang tersirat dalam perumpamaan yang pendidik buat. Namun harus diingat, bahwa perumpamaan yang di buat harus logis dan praktis, mudah dipahami dan diamalkan.

Contohnya; perumpamaan semut yang patut kita tiru karena kekompakan dalam hidup berkelompok sehingga dengan kekompakan itu semut yang kecil bisa memindahkan benda-benda yang berat secara bersama-sama, banyak ahli strategi militer yang berguru pada semut seperti membuat perlindungan bawah tanah saat berperang. kemudian ahli transportasi juga berguru kepada semut seperi menggali terowongan di bawah tanah untuk jalur rel kereta api yang kini kita rasakan manfaatnya. itulah jasa orang-orang yang berfikir atau orang-orang yang mempu mengambil pelajaran dari semut.

Baca Juga :  8 Prinsip Ekonomi Islam Beserta Penjelasannya: Didasarkan Atas 5 Nilai Universal

4. Metode Keteladanan

Foto: Pexels.com

Anak akan cenderung mengikuti atau meniru prilaku orangtuanya, secara psikologis anak memang senang meniru tidak saja yang baik tetapi juga yang buruk sekalipun. Oleh sebab itu, orang tua harus senantiasa menjaga prilakunya, berkata dengan ucapan yang baik, menggunakan bahasa sopan, serta melakukan praktik ibadah dengan sungguh-sungguh agar menjadi teladan bagi anaknya.

5. Metode Pembiasaan

Kebiasaan timbul dari pengulangan, bila orangtua selalu mengucapkan salam saat masuk kerumah itu merupakan usaha untuk membiasakan penyebaran salam bagi anaknya, kemudian bila anaknya masuk rumah tanpa memberi salam, orang tua harus langsung menegur dan mengingatkannya agar membiasakan diri mengucapkan salam.

Metode pembiasaan sangat efektif dalam pembinaan sikap pada anak. Contohnya, orang tua yang membiasakan anaknya bangun pagi sehingga bangun pagi tidak akan menjadi kewajiban yang berat lagi  tetapi hanya sebagai kebiasaan. seperti dalam sebuah peribahasa “manusia bisa karena biasa, Tuuhan bisa karena kuasa”.

6. Metode ‘Ibrah

‘Ibrah adalah mengambil pelajaran  yang diperoleh lewat perenungan atas fenomena alam atau peristiwa sejarah, metode ini merupakan suatu kondisi psikis yang mengantarkan anak kepada intisari dari suatu yang disaksikan, didengar, dan dihadapi menggunakan pemahaman nalar yang menyebabkan hati mengakuinya.

Contohnya, pengambilan ‘Ibrah dari kisah Nabi Yusuf, antara lain, Allah berkuasa untuk menyelamatkan Yusuf setelah dilemparkan kedalam sumur yang gelap oleh saudara-saudaranya. Metode ini juga akan menciptakan anak untuk berpikir jernih dan kritis. Parenting Islam sangat menekankan pentingnya metode ‘Ibrah dari kisah-kisah yang dipaparkan dalam Al-Qur’an dan hadits sebab kisah-kisah ini berbeda dari dongeng atau legenda dan tidak sekedar wacana sejarah, tetapi juga sengaja diceritakan Tuhan sebagai petunjuk atau cermin hidup bagi manusia.

Baca Juga :  7 Lagu Cinta Untuk Listening Bahasa Inggris SMP / SMA

7. Metode Nasehat

Foto: Pexels.com

Metode ini memberikan nasehat bijaksana yang dapat diterima pikiran dan perasaan orang yang menerimanya.  Nasehat yang baik harus terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi dan duniawi. Contoh nasehat yang baik seperti nasehat Luqman al-Hakim kepada putranya yaitu; menasehati anaknya untuk tidak menyekutukan Allah, tidak berbuat jahat, menegakkan sholat, menganjurkan kebajikan dan mencegah kerusakan, senantiasa bersabar dalam menjalani musibah, janganlah bersikap congkak dan sombong, serta tentang pentingnya tatakrama dalam bertutur kata. Keikhlasan orangtua dalam memberi nasehat kepada anaknya sangat diutamakan dalam metode mendidik anak. Suatu nasehat harus disajikan secara ikhlas dan berulang-ulang, bila nasehat itu menyentuh hati anak maka anak akan memandang nasihat itu bukan hanya sekedar nasihat tapi seolah-olah sebagai wasiat.

8. Metode Reward and Punishment (Ganjaran dan Hukuman)

Metode ini akan membangkitkan harapan dan minat anak terhadap sesuatu yang didambakan seperti kesenangan, kemenangan, kejayaan, dan lain sebagainya, Metode ini juga bentuk usaha untuk membangkitkan minat dan hasrat anak untuk memperoleh apa yang dia idamkan.  Dalam Islam, di Janjikan pada siapaun yang melakukan amal saleh atau kebaikan akan mendapat reward yakni masuk syurga, sedangkan bagi siapaun yang melakukan kejahatan atau kerusakan akan mendapat hukuman yang dijanjikan pula yakni masuk neraka.

Itu dia 8 metode mendidik anak sesuai dengan perkembangan zaman, semoga bermanfaat dan bisa kita praktikkan, serta mendapatkan jalan yang mudah dalam proses mendidik anak,  sehingga lahirlah anak-anak yang sholeh dan sholeha, kebanggan orang tua, masyarakat, dan negara.

Irawati Ilyas
the authorIrawati Ilyas
writer