Jumat, 15 November 2019
GeneralSejarah

10 Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah

Diabad ke-21 ini semua orang hidup dalam kecanggihan, artinya semua hal bisa dilakukan secara Express, antar surat sekarang gak perlu lagi menggunakan jasa POS yang harus nunggu berhari-hari, tetapi cukup menggunakan Gmail, Yahoo, atau Facebook dan terkenoneksi dengan Internet maka dalam hitungan detik file suratnya sudah terkirim, diera sekarang ini baikkah mobil dan pesawat sudah bisa berjalan dan terbang secara otomatis, Driver dan Pilotnya cuma melakukan ketika start pertama dan setelah itu bisa minum kopi sambil main catur dan canda tawa, hahahahahaha.. enggak segithunya jugalah gan, oya’kok dah ngebahas kesini ya !!!, tapi intinya yang perlu agan tau semua kecanggihan yang kita nikmati sekarang ini adalah proses yang dilakukan oleh orang jaman dulu, dari proses research dan proses-proses lainnya sehingga terwujudlah kecanggihan seperti sekarang ini gan. Orang-orang jaman dulu para ilmuan yang sudah sangat berperan penting gan, nah disini saya ingin berbagi kepada agan-agan daftar 10 ilmuan muslim terbesar dan terhebat sepanjang sejarah yang wajib agan tau, bukan apa saya bahas topik ini, karena menurut saya ilmuan muslim kurang diexspose gan, padahal mereka yang sudah duluan muncul di bidang keilmuan sebelum ilmuan-ilmuan yang sering muncul di abad 21 ini.

Mereka menarik pengaruh dari filsafat Aristoteles dan Neo-Platonis , termasuk Euclid, Archimedes, Ptolemy dan lain-lain. Kaum muslim saat itu telah berhasil membuat berbagai penemuan di bidang kedokteran, bedah, matematika, fisika, kimia, filsafat, astrologi, geometri dan bidang lainnya. Yang tak terhitung jumlahnya dan menuliskan karya-karyanya dalam berbagai buku.

Berikut beberapa ilmuan dan penemu muslim dengan penemuan luar biasa mereka :

1. Abu Musa Jabir bin Hayyan

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Abu Musa Jabir bin Hayyan (750-803)

Atau dikenal dengan nama Geber di dunia barat, diperkirakan lahir di kuffah, Irak pada tahun 750 dan wafat pada tahun 803. Kontribusi terbesar jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

Karya Jabir antara lain :

– Kitab Al-Kimya (diterjemahkan ke inggris menjadi The Book of the Composition of Alchemy)
– Kitab Al-Sab’een
– Kitab Al Rahmah
– AL Tajmi
– Al Zilaq al Sharqi
– Book of The Kingdom
– Book of Eastern Mercury
– Book of Balance

2. Umar Khayyam

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Umar Khayyam (1048-1131)

Pada masa hidunya, ia terkenal sebagai seorang matematikawan dan astronom yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender persia. Pada 15 Maret 1079, Sultan Jalaluddin Maliksyah Saljuqi (1072-1092) memberlakukan kalender yang telah diperbaiki Umar, seperti yang dilakukan oleh Julius Caesar di Eropa pada tahun 46 SM dengan koreksi terhadap Sosigenes, dan yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada Februari 1552 dengan kalender yang telah diperbaiki Aloysius Lilius (Meskipun Britania Raya baru beralih dari kalender Julian kepada kalender Gregorian pada 1751, dan Rusia baru melakukannya pada 1918).

Diapun terkenal karena menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah parabola dengan sebuah lingkaran.

Ummar khayyam, penulis dan penyair

Omar Khayyam kini terknela bukan hanya karya ilmiahnya, tetapi karena karya-karya sastranya. Ia diyakini telah menulis sekitar seribu puisi 400 baris. Di dunia berbahasa inggris, ia paling dikenal karena The Rubaiyat of Omar Khayyam dalam terjemahan bahasa inggris oleh Edward Fitzgerald (1809-1883).

Orang lain juga telah menerbitkan terjemahan-terjemahan sebagian dari rubaiyatnya (rubaiyat berarti “kuatrain”) , tetapi terjemahan Fitzgeraldlah yang paling terkenal . Ada banyak pula terjemahan karya ini dalam bahasa-bahasa lain.

3. Al-Farabi

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Al-Farabi (870-950)

Al-Farabi berpakaian rapi sejak kecil. Ayahnya sorang opsir tentara turki keturunan Persia, sedangkan ibunya berdarah Turki Asli. Sejak dini id digambarkan memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadist) dan aritmatika dasar.

Al- Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bikhara, dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun.

Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad, yaitu kira-kira pada tahun 920 M, al Farabi kemudian mengembara di kota Harran yang terletak di utara Syria, dimana saat itu Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil. Ia kemudian belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal bernama yang bernama Yuhana bin Jilad.

Tahun 940M, al Farabi melanjutkan pengembaranya ke Damaskus dan bertemu dengan Sayf al Dawla al Hamdanid, Kepala daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para imam Syi’ah. Kemudian al-Farabi wafat di kota Damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H/ Desember 950 M) pada masa pemerintahan Khalifah Al Muthi’ (masih dinasti Abbasiyyah).

Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat yunani yang ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, kitab al-Musiqa. Selain itu, ia juga dapat mamainkan dan telah menciptakan berbagai alat musik.

Al-Farabi dikenal dengan sebutan “guru kedua” setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat.

Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.

Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sayf al Dawla dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang berbentuk Monarki yang dipimpim oleh seorang Khalifah. Ia lahir dimasa kepemimpinan Khalifah Mu’tamid (869-892 M) dan meninggal pada masa pemerintahan Khalifah AL-Muthi’ (946-974 M) dimana periode tersebut dianggap sebagai periode yang paling kacau karena ketiadaan kestabilan politik.

Dalam kondisi demikian , al-Farabi berkenalan dengan pemikiran-pemikiran dari para ahli Filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles dan mencoba mengkombinasikan ide atau pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah negara pemerintahan yang ideal (Negara Utama).

Karya :

Selama hidup al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari ilmu Pengetahuan, karya-karya al-Farabi dapat ditinjau menjadi 6 Bagian.

1. Logika
2. Ilmu-ilmu Matematika
3. Ilmu Alam
4. Teologi
5. Ilmu Politik dan Kenegaraan, dan
6. Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).

4. Ibnu Sina

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Ibnu Sina (980-1037)

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekrang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filososfi dan pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah bin Sina. Ibnu sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kodokteran modern”. George Sarton menyebut Ibnu Sina “Ilmuwan yang paling terkenal adalah dari Islam dan satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu”. Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai Qanun (Judul lengkap : Al-Qanun fi At Tibb).

Karya Ibnu Sina

Jumlah karya yang ditulis Ibnu Sina (diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul). Kualitas karyanya yang begitu luar biasa dan keterlibatannnya dalam praktik kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukan tingkat kemampuan yan luar biasa.

Beberapa karyanya yang sangat terkenal di antara lain :

1. Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
2. Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
3. An Najat
4. Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur)

Selain Karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan Sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah :

1. Hayy ibn Yaqzhan
2. Risalah Ath-Thair
3. Risalah fi Sirr Al-Qadar
4. Risalah fi Al-‘Isyq
5. Tahshil As-Sa’adah

Dan beberapa Puisi terpentingnya yaitu :

1. Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
2. Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
3. Al-Qasidah Al-‘Ainiyyah.

5. Al-Battani

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Al-Battani (850-923)

Al Battani (sekitar 850 – 923) adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab. Al Battani nama lengkap : Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan ar-Raqqi al-Harrani as-Sabi’ al-Battani, lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri :

Ia juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus :

Dan menggunakan gagasan al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen.

Al Battani bekerja di Suriah, tepatnya di ar-Raqqah dan di Damaskus, yang juga merupakan tempat wafatnya.

6. Ibnu Rusyd

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Ibnu Rusyd (1126-1198)

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijrah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengatahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di Dunia Barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen pada abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua Karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan: dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya

1. Bidayat At-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
2. Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
3. Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (Perihal perkataan-perkataan dalam hal kebijaksanaan dan syari’at).

7. Muhammad Bin Musa Al-Khawarizmi

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Al-Khawarizmi (780-850)

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwarizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafata sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad.

Buku Pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematika dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika dia, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi dia tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan.

Biografi

Sidikit yang dapat kita ketahui dari hidup dia, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama dia mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar dia adalah Abu ‘Abdullah atau Abu Ja’far.

Sejarawan al-Tabari menamakan dia Muhammad bin Musa al-Khwarizmi al-Majousi al-katarbali . Sebutan al-Qutrubbuli mengindikasikan dia berasal dari Qutrubbull, kota kecil dekat Baghdad.

Tentang agama al-Khawarizmi, Toomer menulis :

“Sebutan lain untuk dia diberikan oleh al- Tabari, “al-Majusi,” ini mengindikasikan ia adalah pengikut Zoroaster. Ini mungkin terjadi pada orang yang berasal dari Iran. Tetapi, kemudian buku Al-Jabar dia menunjukkan dia adalah seorang Muslim Ortodok, jadi sebutan Al-Tabari ditujukan pada saat ia muda, ia beragama Majusi”.

Dalam kitab al-Fihrist Ibnu al-Nadim, kita temukan sejarah singkat dia, bersama dengan karya-karya tulis dia. Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara 813-833. Setelah Islam masuk ke Persia, Baghdad menjadi pusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India berkelana ke kota ini, yang juga dilakukan dia. Dia bekerja di Baghdad pada Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Bani Abbasiyah Al-Ma’mun, tempat ia belajar ilmu alam dan matematika , termasuk mempelajari terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.

Karya

Karya terbesar dia dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebgai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang dia tekuni. Pendekatan logika dan sistematis dia dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku dia pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa’l-muqabala atau : “Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapkan dan Menyeimbangkan”, buku pertama dia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.

Pada buku dia, kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku dia diterjemahkan kedalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin.

Beberapa kontribusi dia berdasar pada Astronomi Persia dan Babilonia, angka India, dan sumber-sumber Yunani.

Sistemasi dan koreksi dia terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur – Tengah. Buku besar dia yang lain, Kitab Surat al-ard (“Pemandangan Bumi”: diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus.

Ia kemudian mengepalai konstruksi peta Dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpatisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.

Adapun karya-karyanya adalah :

1. Kitab 1 : Aljabar (Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan)
2. Buku 2 : Dixit algorizmi (Buku Tentang Aritmatika)
3. Buku 3 : Rekonstruksi Planetarium (Buku Tentang Kenampakan Bumi)
4. Buku 4 : Astronomi
5. Buku 5 : Kalender Yahudi (Petunjuk Penanggalan Yahudi)
6. Dan masih banyak sekali karya-karya lainnya dalam bahasa Arab di Berlin, Istanbul, Tashkent, Kairo dan Paris.

8. Tsabit bin Qurrah

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Tsabit bin Qurrah (826-901)

Abu’l Hasan Tsabit bin Qurra’ bin Marwan al-Sabi al-Harrani, (826-18 Februari 901) adalah seorang astronom dan matematikawan dari Arab, dan dikenal pula sebagai Thebit dalam bahasa latin.

Tsabit lahir di kota Harran, Turki. Tsabit menempuh pendidikan di Baitul Hikmah di Baghdad atas ajakan Muhammad ibn Musa ibn Shakir. Tsabit menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia.

9. Muhammad bin Zakariya Al-Razi

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Zakariya Al-Razi (864-930

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864-930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Baca Juga :  7 Film Yang Bisa Membangkitkan Motivasi dan Inspirasi Dalam Hidup Anda

Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.

Biografi

Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Masehi dan meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Masehi. Nama Razi-Nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini juga, Ibnu Sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya.

Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30, ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian ia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.

Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah Agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan di bawah kekuasaan Khalifah Abbasiyah, al-Mu’tashim.

Razi kembali ke kampung halamannnya dan terkenal sebagai seorang dokter disana. Kemudian ia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Ar-Razi juga menulis at-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa tahun kemudian, ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad.

Setelah kematian Khalifah al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.

Kontribusi di Bidang Kedokteran

Cacar dan Campak

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar.

“Cacar terjadi ketika darah ‘mendidih’ dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur matang. Pada tahap ini, Cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi.”

Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis “Pernyataan pertama yang paling akurat dan terpercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut.”

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi : “Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa disemua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan.”

Alergi dan Demam

Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

Farmasi

Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-Razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

Karya

Berikut ini adalah karya ar-Razi pada bidang kedokteran yang dituliskan dalam buku :

1. Hidup yang luhur
2. Petunjuk kedokteran untuk masyarakat umum
3. Keraguan pada Galen
4. Penyakit pada anak

10. Ibnu Batutah

Ilmuan Muslim Terbesar dan Terhebat Sepanjang Sejarah
Ibnu Batutah (1304-1368/1377)

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 1304-1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko.

Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji-Ziarah ke Mekah. Setelah selesai dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia muslim (sekitar 44 negara modern).

Perjalananya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang umum digunakan menuju mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh : pengembara menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad’. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut , ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.

Kembali ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk) , dengan alasan keterangan/anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai ke Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut – Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya-dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.

Setalah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Nabi Muhammad Saw. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungan, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah ll-Khanate (sekarang Iraq dan Iran).

Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan munuju Mesopotamia dan mengunjungi najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad (Baghdad belum lama diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).

Disana ia bertemu Abu Sa’id, pemimpin terakhir II-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara munuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting.

Menghabiskan sekitar seminggu disetiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kepal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi.

Setalah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, ia mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai Selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.

Setalah menyebrangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombogan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Itu dia gan 10 Ilmuan Muslim Terbesar dan terhebat Sepanjang Sejarah yang mungkin sedikit orang tau, nah’dengan saya tulis artikel ini mudah-mudahan makin banyak orang yang sadar dan tau bahwa tidak sedikit ilmuan-ilmuan islam yang berperan penting di bidang penemuan-penemuan yang kita nikmati sekarang, baikkah itu di bidang kedokteran, teknologi, filsafat, dan musik gan.

Nurul Arifin
the authorNurul Arifin
Admin & Writer
Only I can change my life. No one can do it for me.