Selasa, 19 November 2019
InternetTechnology

Apa Itu Bitcoin Dan Hukum Penggunaannya Dalam Kehidupan

Foto: Pixabay.com

Di era Millenium ini banyak sekali inovasi yang muncul di tengah masyarakat kita. Adapun hal itu terjadi karena disebabkan oleh teknologi yang berkembang pesat dan juga penggunaan Internet yang sangat luar biasa. Salah satu inovasi tersebut adalah berkembang nya mata uang digital seperti bitcoin yang sudah mencapai harga ratusan juta untuk satu coin nya. Namun sebelum jauh membahas tentang bitcoin ada baiknya kita mengetahui apa itu bitcoin dan apa hukum penggunaannya.

Apa Itu Bitcoin?

Bitcoin adalah sebuah mata uang digital yang tersebar dalam jaringan peer-to-peer (suatu teknologi sharing resource dan service antara satu komputer dan komputer yang lain) yang tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini memiliki sebuah buku akuntansi besar bernama Blockchain yang dapat diakses oleh publik, dimana didalamnya tercatat semua transaksi yang pernah dilakukan oleh seluruh pengguna Bitcoin, termasuk saldo yang dimiliki oleh tiap pengguna. (forumbitcoin.co.id)

Ada banyak bisnis dan individu yang menggunakan Bitcoin. Termasuk bisnis fisik di dunia nyata seperti restoran, apartemen, firma hukum, dan juga layanan online terkenal seperti Namecheap, WordPress, Reddit, dan Flattr.
Meskipun Bitcoin termasuk fenomena baru, namun berkembang sangat pesat. Pada akhir Agustus 2013, nilai total semua bitcoin yang beredar melebihi 1,5 milyar dolar AS, dengan transaksi pertukaran bitcoin senilai jutaan dolar dilakukan setiap harinya. (bitcoin.org.). Dengan memperhatikan jangkauannya, bitcoin telah disepakati para pebisnis di dunia maya sebagai alat tukar. Dengan kata lain, bitcoin telah menjadi mata uang di dunia maya.

Bitcoin adalah salah satu jenis mata uang digital atau elektronik yang dewasa ini digunakan oleh para pengguna dan komunitas sebagai alat transaksi pembayaran dalam transaksi keuangan online (e-commerce). Adapun manfaat yang bisa diambil dari transaksi yang menggunakan Bitcoin, selain dari segi praktis dalam penggunannya juga kecepatan dalam bertransaksi, dan yang lebih penting adalah dari segi keunggulannya yang mana tidak terpengaruh dengan adannya kurs pertukaran mata uang yang terjadi dalam suatu negara, dan juga tidak terdapatnya charge back seperti yang terdapat dalam Paypal.

Sehingga membuat para pengguna dan komunitas Bitcoin itu sendiri memilih Bitcoin sebagai alat transaksi mereka. Masalah yang timbul kemudian adalah mengenai kebolehan transaksi dengan menggunakan Bitcoin sebagai alat transaksi pembayaran. Dilihat dari segi manfaatnya sendiri lebih kecil ketimbang dampak madharatnya yang lebih besar.

Diketahui bahwa mengenai itu sendiri harus ditanggung oleh pihak individu yang menggunakannya, yang mana sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 16/06/DKom dan relevansinya dengan Peraturan Bank Indonesia mengenai uang elektronik Nomor: 11/12/PBI/2009.

Apa Hukum Menggunakan Bitcoin?

Sebagian ulama berkata, “Uang adalah suatu benda yang disepakati oleh para penggunanya sebagai (alat tukar), sekalipun terbuat dari sepotong batu atau kayu”. (Majmu’ Fatawa, 19/251). Dalam fatwa para ulama menyatakan; Mata uang elektronik adalah mata uang di dunia digital. Mata uang ini meskipun bentuknya tidak sama dengan mata uang lainnya, namun dilihat dari sisi nilai yang dipertanggungkan statusnya sama. Sehingga uang elektronik ini dihukumi sebagai ‘umlah (mata  uang) yang bisa disimpan. (Fatawa Islam, no. 219328)

Fatwa bolehnya menggunakan bitcoin juga disampaikan lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah – Qatar, Mata uang elektronik adalah mata uang dalam bentuk digital, tidak seperti mata uang kertas atau mata uang berbahan logam tambang, seperti yang umumnya beredar. Karena itu, membeli mata uang digital dengan mata uang lain yang berbeda, termasuk transaksi sharf (transaksi mata uang). (Fatawa Syabakah Islamiyah no. 191641), fatwa lainnya; Siapa yang memiliki mata uang digital itu dengan cara yang disyariatkan (mubah), maka tidak masalah untuk dimanfaatkan, untuk keperluan yang mubah. (Fatawa Syabakah Islamiyah no. 251170)

Ketika ada orang yang beli bitcoin, atau jual bitcoin, di tempat transaksi keduanya harus ada. Uang ada, bitcoin ada. Tidak boleh ada yang tertunda. Jika tertunda, melanggar larangan riba nasiah. Begitu konsumen transfer rupiah, di saat yang sama penyedia bitcoin harus mengirim BTC untuknya. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah, aturan ini disebutkan,

Dalam transaksi mata uang, harus ada serah terima (taqabudh) dan sama kuantitas jika jenisnya sama. Dan disyaratkan harus taqabudh, meskipun boleh tidak sama kuantitas, jika beda jenis. Dan taqabudh bisa dilakukan secara haqiqi (ada uang, ada bitcoin yang bisa dipegang), bisa juga secara status (hukmi). (Fatawa Syabakah Islamiyah no. 251170)

Kesimpulannya, penggunaan bitcoin secara hukum syariah dibolehkan, tidak ada sisi pelanggarannya, selama itu dimiliki secara legal dan bukan melalui pembajakan atau penipuan.
Baca Juga :  Apakah Bitcoin Itu Dilarang Dan Diharamkan Di Indonesia?
Irawati Ilyas
the authorIrawati Ilyas
writer