Jumat, 22 November 2019
Tokoh

Bob Sadino, Mengenal Lebih Jauh Pengusaha Nyentrik Nan Inspiratif

Foto: Kompasiana (Edited by beuget)

“Saya mau miskin ah,” –Bob Sadino

Pengusaha terkenal itu mengatakan kalimat tersebut bukan sebagai candaan. Ia benar-benar serius, dan keseriusannya ditunjukan dengan tindakan nyata. Melepas segala kenyamanan yang dimilikinya selama tinggal di negeri kincir angin, Bob kembali ke tanah air dan mencoba hidup miskin.

Kisah ini terjadi pada tahun 1967. Tahun yang menjadi titik balik dalam kehidupan Bob Sadino. Sejak tahun 1958, pria kelahiran Lampung tersebut sudah tinggal di Jerman dan Belanda serta bekerja di perusahaan ekspedisi Djakarta Lyod. Pekerjaannya saat itu membuat Bob Sadino sering bepergian keluar Negara, terutama Eropa. Ia hidup serba bercukupan.

Sementara menjalani kehidupan yang dipandang enak dan nyaman, batinnya berperang. Ia tak merasa bisa menikmati kehidupannya saat ini. “Atasan saya waktu itu goblok.” Bob menjelaskan salah satu alasan kenapa ia tak betah. Tertekan dengan atasannya, ia memutuskan keluar dari pekerjaan, meninggalkan semua fasilitas dan kehidupan enaknya lalu kembali ke Jakarta.

Anak Guru

Bambang Mustari Sadino adalah nama sebenarnya dari pria yang akrab dipanggil Om Bob ini. Lahir di Tanjung Karang, Lampung 9 Maret 1933 dari ayah dan ibu berdarah Jawa.

Semasanya hidupnya, sang ayah adalah seorang guru, yang kemudian menjadi kepala sekolah. Bob kecil tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik. Relatif lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak di sekitar rumahnya.

“Bahasanya memang ndak enak. Saya dari kecil itu bercukupan terus.” Bob Sadino mengenang kehidupan masa kanak-kanaknya.

Kita tahu bagaimana sulitnya kehidupan masyarakat pribumi di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Kemiskinanan membuat banyak keluarga tak mampu memberi makanan bergizi pada anak-anak mereka, apalagi kesempatan bersekolah.

Kondisi yang ‘lebih baik’ inilah yang sangat disyukuri Bob Sadino hingga akhir hayatnya. Keluarganya tak pernah kesulitan dalam keuangan, dan ia sendiri juga mendapatkan pendidikan layak hingga tingkat SMA.

Menjelajah Eropa

Setamat SMA, Bob Sadino bekerja di perusahaan Unilever. Belum lama bekerja, ia berhenti karena ingin kuliah. Pada dasarnya Bob muda adalah seorang ‘pembosan,’ ia tak betah hanya berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Akhirnya, ia pun kembali bekerja di Unilever, namun hanya bertahan beberapa lama Bob Resign dari perusahaan tersebut kemudian bekerja di perusahaan Djakarta Lyod pada tahun 1950. Perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi dan pelayaran tersebut membawanya melanglang buana ke berbagai Negara, namun dari banyaknya Negara yang dikunjungi, benua Eropa merupakan yang paling sering Bob kunjungi. Ia bahkan menetap selama Sembilan tahun di kota Amsterdam dan Hamburg.

Baca Juga :  Ketahui 7 Hal Berikut, Hidup Gaya Richard Branson Pendiri Virgin

Setelah mencoba bertahan selama Sembilan tahun di bawah atasan yang membuatnya stress tersebut, Bob akhirnya memutuskan Resign. Keputusan yang mungkin terasa impulsif tersebut, tidak diikuti rencana masa depan yang jelas. Padahal saat itu Bob sudah mempunyai calon istri. Tanpa tahu apa yang harus dikerjakannya setelah tak punya pekerjaan, Bob mengajak pasangannya kembali ke Jakarta pada tahun 1967.

Mulai Dari Nol

Dibalik kesuksesan seorang pria selalu ada wanita hebat di belakangnya. Soelami Soejeod, perempuan yang mampu menarik perhatian Bob Sadino, bersedia diajak kembali ke tanah air meski tahu masa depannya mungkin tak jelas. Ia, seorang karyawati Bank Indonesia yang ditugaskan di Amerika Serikat tak keberatan meninggalkan kemapanan yang sudah ia miliki, dan mengikuti ‘kegilaan’ suaminya.

Bob Sadino kembali ke Jakarta dengan membawa dua buah mobil Mercedes. Mobil itu merupakan hasil kerjanya selama Sembilan tahun. Tiba di Jakarta, ia menjual salah satu mobil tersebut yang kemudian uangnya digunakan untuk membeli property di kawasan Kemang, Jakarta Pusat.

Mobil satu lagi digunakan sebagai taksi gelap atau kadang-kadang sebagai mobil rental. Selama hampir setahun, Bob mencukupi kehidupan keluarga dengan cara demikian.

Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Suatu hari mobilnya rusak karena tertabrak. Kerusakannya cukup parah dan memerlukan biaya besar untuk memperbaiki. Sayangnya, Bob tak memiliki uang sebanyak itu.

Lelaki keras kepala tersebut sebenarnya dengan mudah bisa menerima bantuan dari kakak-kakaknya. Ia juga bisa meminta istrinya bekerja lagi untuk menalangi kehidupan mereka sementara mobil diperbaiki. Namun bukan Bob jika ia dengan mudah menadahkan tangan.

Ia tetap meralarang istrinya bekerja. “Saya kepala keluarga, maka sayalah yang bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan.” Bob juga menolak uang yang ditawarkan oleh saudaranya, padahal mereka mapan dan berkecukupan.

Baca Juga :  Ketahui 7 Hal Berikut, Hidup Gaya Richard Branson Pendiri Virgin

Ia bekerja apa saja demi memberikan kehidupan layak bagi keluarganya. Percayakah kamu bahwa Bob Sadino, salah satu pengusaha terkaya di Indonesia, pernah menjadi kuli bangunan?, Nyatanya demikian, Bob tak keberatan melakukan pekerjaan kasar tersebut. Pekerjaannya antara lain menembok, mengecat, menggergaji kayu, mengangkat karung-karung semen dan lain sebagainya.

Selama setahun, Bob Sadino bekerja sebagai kuli lepas. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, melainkan ucapan syukur.

Beruntung sang istri selalu menjadi pendukung utamanya. Tak pernah sekalipun perempuan hebat itu berniat meninggalkan Bob yang telah ‘membuatnya’ hidup susah. Meski hanya bisa makan seadanya, dan tak pernah tahu apakah ada uang untuk hari berikutnya, Soelami setia mendampingi Bob Sadino.

Kisah Ayam dan Telur

Sekarang ini, istilah ayam kampong dan ayam broiler bukanlah sesuatu yang asing lagi di telinga orang Indonesia. Begitupun dengan istilah telur ayam kampong dan telur ayam negeri.

Bob sadino mungkin bukan orang pertama yang mengetahui jenis ayam tersebut, namun sudah pasti ia adalah orang pertama yang melihat peluang emas tersebut. Kawasan kemang yang menjadi tempat tinggalnya banyak dihuni orang asing yang bekerja di Indonesia. Bob berpikir untuk mencoba menyuplai kebutuhan orang-orang asing tersebut dari segi pangan. Telur ayam negeri adalah salah satu jenis pangan yang dibutuhkan oleh mereka.

Bob memutar otak. Ia menghubungi kawan baiknya di Belanda, Sri Mulyono Herlambang dan meminta bantuannya mengirim bibit ayam broiler sebanyak 50 ekor. Meski saat itu tidak memiliki keahlian, Bob nekat beralih menjadi peternak ayam.

Kesukaannya membaca sangat membantu kelancaran transisi hidupnya. Dari banyak buku dan majalah berbahasa asing, dengan tekun Bob mempelajari cara beternak ayam broiler. Dan saat ayamnya sudah menghasilkan telur, ia pun tanpa canggung menjajakan telurnya ke seputar kawasan kemang.

Baca Juga :  Ketahui 7 Hal Berikut, Hidup Gaya Richard Branson Pendiri Virgin

Walaupun menjadi trend-setter dalam bisnis peternakan, usaha Bob Sadino tidak semerta-merta berjalan mulus. Banyak orang yang mencibir telur-telurnya, sebagian bahkan menganggap bentuk telur jualannya aneh karena lebih besar daripada telur pada umumnya. Tatapan sinis dan sindiran kasar tak jarang diterima Bob ketika memulai usahanya.

Tak pernah patah semangat, Bob dan istrinya setiap hari berkeliling menjajakan telur-telur mereka. Mengetuk satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya, pasangan suami istri tersebut pantang menyerah. Yang menjadi target pasar mereka adalah orang asing (Bule).

Demi menarik perhatian pelanggan, Bob mencoba memberi Inovasi. Selain dengan terus meningkatkan mutu, ia juga memasukkan setangkai bunga Anggrek ke dalam kotak telur jualannya. Tentu saja, hal ini berhasil sebab siapa sih yang tak suka kejutan manis seperti ini? Dan kita tahu Anggrek bukanlah bunga yang murah.

Perlahan tapi pasti, branding yang diciptakan Bob mendapatkan tempat di hati pelanggannya hingga bisnisnya bisa sebesar sekarang.

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur system hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah “warung” shaslik di Blok M, kebayoran Baru, Jakarta.  Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata perbulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai  70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

Itu dia artikel mengenai Bob Sadino, Mengenal Lebih Jauh Pengusaha Nyentrik Nan Inspiratif, semoga artikel ini bisa menambah wawasan kamu dan juga bisa menjadi suatu dorongan buat kamu tetap semangat untuk mengembangkan usaha.

Nurul Arifin
the authorNurul Arifin
Admin & Writer
Only I can change my life. No one can do it for me.